Semarang,15 Desember 2015 Hai, kamu. mungkin ucapan maaf saja tak akan pernah mampu mengobati perihmu. Seberapa keras, seberapa sering kamu meyakinkanku bahwa kamu baik-baik saja, ketahuilah, aku pernah merasakan sakitnya menjadi kamu. Walaupun harus aku akui, mungkin yang kamu alami lebih dari yang pernah aku rasakan sebelumnya. Tapi percayalah, hanya dengan melihat raut wajahmu, aku, entah bagaimana bisa tiba-tiba merasakan nyeri di dadaku. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, maaf saja tak akan pernah cukup. Tapi sungguh aku tak jemu-jemunya mengucapkan maaf sebagai permulaan pembicaraanku denganmu. Aku harap kamu tidak bosan mendengarkan rentetan maaf yang seringkali aku katakan. Jikalau kamu bosan, kamu boleh saja menutup telinga, mengacuhkanku, lantas pergi meninggalkanku lalu biarkan aku mencaci diriku sendiri, seorang diri, di sini.